1,661 notes

Comments

Wouldn’t it be nice if we were older
Then we wouldn’t have to wait so long
Wouldn’t it be nice to live together
In the kind of world where we belong

You know its gonna make it that much better
When we can say goodnight and stay together

Wouldn’t it be nice if we could wake up
In the morning when the day is new
And after having spent the day together
Hold each other close the whole night through

Happy times together we’ve been spending
I wish that every kiss was never ending
Wouldn’t it be nice

Maybe if we think and wish and hope
And pray it might come true
Run, run, run
Baby, then there wouldn’t be a single thing we couldn’t do
We could be married
We could be, we could be married and happy
And then we’d be happy

Wouldn’t it be nice

You know the more we talk about it
It only makes it worse to live without it

But let’s talk about it
Oh wouldn’t it be nice

Goodnight baby
Sleep tight baby
Goodnight baby


I just watched jun matsumoto and ueno juri movie called “girl in the sunny place”, then i found this song. Nice movie, great actor and actress, nice song, and sweet lyric :”)……Wouldn’t it be nice, dear.

Comments

"Kamu akan baik-baik saja" adalah kata-kata yang bagi saya menentramkan untuk didengar dari orang lain. Meskipun pada akhirnya mungkin sesuatu tidak berjalan baik-baik saja, tetapi "kamu akan baik-baik saja" dapat menguatkan. Kata-kata tersebut membuat saya setidaknya percaya bahwa pada akhirnya saya akan baik-baik saja. Bukankah semuanya memang akan baik-baik saja pada akhirnya? Jika tidak baik-baik saja, berarti itu bukanlah akhirnya. Kata-kata "kamu akan baik-baik saja" mendamaikan kegundahan, menjadi pelipur kecemasan, membuat saya bertahan hingga keadaan berakhir dengan baik-baik saja.

(via kuntawiaji)

590 notes

Comments

2,996 notes

Comments

nopiarahmah:

ngena brohh.. – View on Path.

nopiarahmah:

ngena brohh.. – View on Path.

1 note

Comments

1,526 notes

Comments

860 notes

Comments

3,186 notes

Comments

Remembering “The Macaroni and Notebook Day”

Kenapa tiba-tiba jadi inget hari itu, Ta? Banyak siih pemicunya… Kalo denger lagu bisa inget, makan makanan yang ada pas momen itu jadi inget juga, atau pergi ke tempat domisili orangnya juga bisa inget. Apalagi kalo lagi diam sendiri, kayak sekarang duduk sendiri di kamar dengan jendela terbuka sambil liat ujung pohon duren juga bisa inget. The memories come and go…

Jadi, kemarin itu gue jalan-jalan ke Bogor. Rencananya mau ikut Oza feeding rusa di Istana Bogor, tapi di sana hujan deres bangeeet jadinya kita wisata kuliner deh (sambil hujan-hujanan). Naik kereta jam 7.30 ke Bogor dengan suasana yang dingin karena di Jakarta juga hujan dan AC di kereta juga super dingin yang bikin batuk-batuk. Tujuan pertama setelah sampe di stasiun adalah Dramaga, nemenin Lekta ambil surat di kos temennya. Dramaga, Ta? Beneran tuh? Dramaga yang ada I*B nya kan? hahahaha…. Agak deg-degan sih kalo ke Bogor apalagi ke Dramaga, siapa tau kan ketemu sesosok dia di jalan *jeng-jeng ngarepnya mulai*. Selama di sana situasi aman terkendali dan ga ngeliat sesosok dia di mana pun. Selesai urusan di Dramaga, lanjut ketemu Oza di depan stasiun Bogor dan setelah sedikit chit chat, pilihan jatuh buat makan di Kedai Kita. Kita mau makan makanan yang enak, yang barat-barat gitu deh tapi tetep ya hujan-hujanan bok. Beneran deh ya, mie sama pizzanya enak bangeeet, pokoknya lain waktu harus makan di sana lagi.

Setelah alhamdulillah lumayan kenyang, kita lanjut cari tempat jajanan lain. Si Oza mukanya agak mupeng gitu pas liat tulisan “Ceker Mercon Bang Gendut”, mungkin sambil nelen ludah juga kali yaa *peace Oz hehehe*.  Akhirnya kita putusin makan ceker mercon itu, karena udah kenyang jadinya makan ga pake nasi. Untung kita cuma pesan satu porsi ceker, ternyata pedes banget sampe bikin bibir panas, sodara-sodara. Cuma gue sama Oza yang makan karena Lekta ga suka makan ceker (Ta… ceker itu enak banget loooh). Perjalanan di Bogor kali ini cuma sampe sore karena kita harus naik kereta ke Jakarta jam 18.05 dan gue juga ga mau pulang kemaleman. Setelah sholat Asar langsung pergi ke stasiun. Sebelum sampe di stasiun gue liat batagor, mendadak laper lagi dong. Lekta sampe heran kenapa gue ga kenyang-kenyang dari tadi. Kayaknya I’m hungry all the time deh hahahaha

Jam 8 udah sampai di rumah, nyaman banget, but still, Bogor is great :D. Sebelum tidur, gue sempetin baca Twivortiare karena masih penasaran sama ceritanya, secara baru sepertiga novel yang gue baca. Ternyata di Pasir Muncang, Bogor sana, Oza udah selesai baca Divortiare dan dia ga bisa move on dong. She is craving for Denny, real Denny exactly. Sedangkan gue, I am craving for real Beno, haha. Jadilah sebelum tidur WA dulu sama dia cuma buat numpahin kelaparan kita akan sosok fiksi tadi. Mungkin bakal dibilang aneh kali ya kalo otrang lain baca chat kita, tapi begitulah adanya. Kata Oza, Divortiare : it’s just too well written. Ohh Beno, ohh Denny (gilaaaak hahaha).

Bangun tidur tiba-tiba jadi ngidam mie sama pizza kemarin. Kalo masak mie lada hitam yang model begitu kayaknya ga bisa, kalo bikin pizza lagi males sih. Suara-suara di kepala bilang “masak makaroni skutel aja, kan sama juga makanan western yang banyak keju”. Makaroni ohh makaroni. Kalo mau masak ini jadi inget hari itu. Hari ternekat dalam hidup gue. Jujur ya, selama baca Twivortiare gue selalu inget sosok dia. Apalagi pas bagian Beno, pas penulis mendeskripsikan tokoh Beno itu. Sekali lagi it is just too well written. Gue ngerasa cool cool misterius dan diemnya Beno mirip sama dia. Oh yes, I love a man wth that karakter dingin-dingin kulkas misterius pendiem gitu *haduhh apa sih ini bahasanya*. That’s why gue jadi inget “The Macaroni and Notebook Day” itu. Apalagi selama perjalanan dari Bogor gue sempet cerita tentang dia ke Lekta, jadi tambah inget kan. Ta, mungkin lo bosen kali ya tiap ketemu gue, dia lagi dia lagi yang jadi topik pembicaraan, tapi sejujurnya gue cuma minta didengerin kok. Gue ga tau gue harus gimana lagi atau lebih tepatnya gue tau apa yang harus gue lakukan tapi masih bingung aja. Orang-orang bilang. “cari yang lain aja” atau “move on aja sih, orangnya juga ga respon”. Move on gimana, gue ngerasa ini belum ada awal dan akhirnya. Ga tau lagi deh ini namanya perasaan apa, begini amat yaaaa.

Siang ini, saat duduk di depan jendela sambil liat pohon duren, memories of macaroni and notebook are slowly fulling my head. Gue inget, Sabtu, 15 Juni 2013 dengan penuh kenekatan dan keberanian sambil nahan mules ngasih hadiah itu buat dia, DIY notebook dan makaroni yang gue masak sendiri. Yang paling gue inget di hari itu gue nervous banget banget, muka gue rasanya panas, perut mules, kaki lemes, dan udah pasti muka gue merah. Sejak saat itu, gue ga berani buka omongan ke dia, karena pasti muka gue bakal kayak udang rebus. Maybe next time, kalo berani gue bakal talk to him and I will cook Indonesian cuisine for you ;)

image

I know, you are busy, you are continuing your study right now. I can not talk to you normally like others do, or even just say “hi”, i can not do it now. Everything seems awkward, you know? But if you look the first page of the notebook. there is my prayer for you only. Semoga Allah selalu memberkahimu, memberkahi kehidupanmu dan ilmu yang kamu dapatkan…

Sincerely,

(mantan) mahasiswi jelata yang menggemari dosennya

Comments

Akan ada satu masa, di mana saling bertatapan dengan lawan jenis akan membuat kalian hanya bisa senyum-senyum tertunduk seperti orang bodoh.

Rizkita Lubis dalam Kania (via kuntawiaji)

350 notes

Comments

Page 1 of 33

1

2

3

4

5

Next ›

function recent_tweets(data){for(i=0;i